Ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah desain tidak berhenti sebagai gambar di monitor, tapi akhirnya dipakai oleh ribuan orang.
Di 2025, aku mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari Creative Team Solo Run Fest 2025 dan ikut mengerjakan salah satu elemen yang menurutku paling personal dalam sebuah running event: jersey peserta.

Kenapa personal?
Karena banner mungkin selesai ketika event selesai. Poster perlahan tenggelam di timeline. Signage akan dibongkar setelah race day.
Tapi jersey?
Jersey dibawa pulang.
Dipakai latihan lagi.
Masuk ke lemari.
Dipakai ikut race berikutnya.
Dan beberapa tahun kemudian, mungkin masih bisa mengingatkan pemiliknya pada satu pagi ketika ia pernah berdiri di garis start Solo Run Fest.
Itulah yang membuat proses mendesain jersey event terasa berbeda.
Tentang Solo Run Fest 2025
Solo Run Fest 2025 bukan lagi sekadar kelanjutan dari sebuah event lari.
Event ini merupakan evolusi dari SHA Run For Solo, ajang yang sebelumnya diselenggarakan pada 2023 dan 2024 oleh PT SHA SOLO. Pada 2025, konsepnya berkembang menjadi sebuah festival olahraga dengan pendekatan sport tourism yang lebih luas.
Solo Run Fest menghadirkan tiga kategori utama, yaitu 5K, 10K, dan Half Marathon, sekaligus membawa unsur festival seperti UMKM, sportswear expo, serta entertainment.
Race day utama digelar pada Minggu, 28 September 2025 di Kota Surakarta, dengan titik start di depan Stadion Manahan Solo dan finish di Taman Balekambang. Gelaran tersebut diramaikan oleh sekitar 6.000 peserta.
Enam ribu peserta berarti enam ribu pengalaman yang berbeda.
Ada yang datang mengejar personal best.
Ada yang baru pertama kali mengikuti event lari.
Ada yang mencoba naik kelas dari 5K ke 10K.
Dan ada juga yang datang dengan satu target sederhana:
menyelesaikan Half Marathon pertamanya.
Dari situ muncul sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi menarik dari sisi desain.
Kalau pengalaman setiap kategori berbeda, apakah jersey mereka juga harus punya rasa yang sama?
Menurut kami: tidak.
Bukan Sekadar Membedakan Warna
Dalam project ini, kami mengembangkan empat varian jersey yang memiliki karakter berbeda:
5K, 10K, Half Marathon, dan jersey khusus HM Finisher.
Sekilas mungkin terlihat sederhana.
Tinggal ganti warna, bukan?
Ternyata tidak sesederhana itu.
Aku tidak ingin perbedaan warna hanya berfungsi sebagai kode kategori. Setiap warna seharusnya ikut membantu membawa karakter dari perjalanan pelarinya.
Karena 5K punya cerita yang berbeda dengan 10K.
10K punya tantangan yang berbeda dengan Half Marathon.
Dan seseorang yang berhasil melewati finish Half Marathon juga punya cerita yang berbeda lagi.
Akhirnya warna menjadi salah satu bahasa untuk menceritakan semuanya.

5K Pink dan Keberanian untuk Memulai
Untuk kategori 5K, warna utama dibuat lebih cerah dan playful dengan dominasi pink.
Buatku, 5K adalah pintu masuk yang menarik ke dunia running event.
Tidak semua orang yang berdiri di kategori ini datang sebagai pelari berpengalaman.
Ada yang baru pertama ikut race.
Ada yang diajak teman.
Ada yang selama ini cuma lari santai di akhir pekan.
Ada pula yang mungkin punya satu target sederhana:
“Pokoknya finish dulu.”

Karena itu, karakter visualnya dibuat lebih ringan, fun, dan penuh energi.
Pink memberi rasa yang lebih berani dan ekspresif.
Bukan warna yang ingin terlihat terlalu serius.
Karena 5K juga memang tidak harus selalu serius.
Kadang 5 kilometer pertama adalah awal dari cerita yang jauh lebih panjang.
Hari ini 5K.
Beberapa bulan kemudian mungkin 10K.
Lalu entah kapan, seseorang mulai berpikir:
“Kayaknya Half Marathon bisa deh.”
Dan semuanya dimulai dari keberanian untuk berdiri di satu garis start.

10K Biru, Ritme, dan Konsistensi
Masuk ke kategori 10K, karakter warnanya bergeser ke dominasi biru.
Kalau 5K terasa seperti keberanian untuk memulai, menurutku 10K sudah mulai bicara tentang ritme.
Sepuluh kilometer cukup panjang untuk mengajarkan bahwa semangat saja tidak selalu cukup.
Start terlalu cepat, kilometer terakhir bisa terasa panjang sekali.
Terlalu menahan diri, mungkin masih ada tenaga yang sebenarnya bisa dikeluarkan.
Di sinilah pelari mulai belajar membaca tubuh.
Belajar pace.
Belajar mengatur napas.
Dan yang paling penting, belajar konsisten.

Karena itu karakter biru terasa cocok.
Lebih tenang.
Lebih fokus.
Tetapi tetap mempunyai energi.
Visualnya masih berada dalam dunia yang sama dengan kategori lainnya, tetapi punya karakter yang lebih stabil.
Buatku, 10K seperti fase ketika seseorang mulai memahami:
lari bukan lagi hanya tentang seberapa cepat kita bergerak, tetapi seberapa baik kita menjaga ritme.

Half Marathon Warna yang Lebih Dalam
Kemudian ada Half Marathon.
21,1 kilometer.
Di sini rasa sebuah race mulai berubah.
Karena semakin jauh jaraknya, semakin panjang pula percakapan pelari dengan dirinya sendiri.
Ada kilometer ketika semuanya terasa nyaman.
Ada kilometer ketika kaki mulai berat.
Dan ada titik ketika yang menentukan seseorang terus bergerak bukan lagi kemampuan fisik saja.
Tapi kepala.

Karena itu, jersey Half Marathon menggunakan karakter pink/magenta yang lebih dalam.
Masih mempunyai hubungan visual dengan keseluruhan event, tetapi terasa lebih mature.
Buatku warnanya merepresentasikan ketahanan, komitmen, dan kedewasaan dalam perjalanan seorang pelari.
Half Marathon bukan hanya soal bisa berlari sejauh 21 kilometer.
Ada latihan sebelum race.
Ada pagi-pagi yang harus dikorbankan.
Ada long run.
Ada rasa malas.
Ada sesi latihan yang berantakan.
Semua itu akhirnya dibawa ke garis start.
Ketika orang melihat jersey HM, aku ingin ada rasa bahwa kategori ini punya bobot perjalanan yang berbeda.

HM Finisher Hitam yang Harus Didapatkan
Kemudian ada satu jersey yang sejak awal memang diperlakukan berbeda.
HM Finisher Jersey.
Warna utamanya hitam.
Lebih minimal.
Lebih gelap.
Lebih eksklusif.
Dan alasannya sederhana:
jersey ini bukan untuk semua orang.
Race jersey bisa dipakai sebelum perlombaan dimulai.
Tapi status finisher?
Itu harus didapatkan.
Seseorang harus melewati kilometer demi kilometer sebelum akhirnya pantas membawa identitas tersebut.

Itulah kenapa tulisan FINISHER HALF MARATHON ditempatkan dengan jelas.
Tidak perlu cerita terlalu panjang.
Tulisan itu sendiri sudah menceritakan cukup banyak.
Di balik dua kata tersebut ada 21,1 kilometer.
Ada latihan.
Ada rasa capek.
Ada kilometer-kilometer ketika seseorang mungkin ingin berhenti.
Dan akhirnya ada satu garis yang berhasil dilewati.
Finish line.
Warna hitam dipilih untuk memberikan karakter yang lebih eksklusif, elegan, dan berbeda dari race jersey reguler.
Sederhananya, ketika seseorang memakai jersey itu setelah event, pesannya jelas:
“Aku menyelesaikannya.”
Satu Event, Empat Karakter
Walaupun setiap varian mempunyai warna yang berbeda, kami tetap ingin semuanya terlihat sebagai satu keluarga.
Karena itu bahasa visual dasarnya dipertahankan.
Bentuk-bentuk grafis organik dan dinamis digunakan sebagai elemen utama.
Elemen tersebut bergerak melintasi badan jersey, memberi kesan flow dan movement yang dekat dengan aktivitas berlari.
Komposisinya dibuat cukup berani tanpa menjadikan jersey terlalu penuh.
Identitas Solo Run Fest 2025 tetap ditempatkan sebagai elemen penting, kemudian sponsor dan identitas kategori disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing jersey.
Jadi ketika keempat jersey diletakkan berdampingan, warnanya memang berbeda.
Tetapi kita masih bisa mengatakan:
mereka berasal dari dunia yang sama.
Dan menurutku justru itu salah satu tantangan menarik dalam membuat visual system.
Consistency tidak berarti semuanya harus identik.
Consistency berarti setiap elemen masih mempunyai DNA yang sama meskipun memiliki karakter masing-masing.
Jersey Juga Harus Bekerja Ketika Dipakai
Ada satu hal yang kadang mudah terlupakan ketika membuat apparel design:
kita tidak sedang mendesain canvas datar.
Kita mendesain sesuatu yang nantinya membungkus tubuh manusia.
Apa yang terlihat bagus di mockup belum tentu menghasilkan komposisi yang sama ketika dijahit dan dikenakan.
Posisi grafis akan mengikuti bentuk tubuh.
Ada sambungan kain.
Ada bagian yang tertutup tangan.
Logo sponsor harus tetap terbaca.
Komposisi depan dan belakang juga harus tetap terasa seimbang.
Terlebih jersey akan digunakan untuk aktivitas fisik.
Artinya, desain harus tetap menarik ketika peserta berdiri untuk foto, ketika berlari, bahkan ketika dilihat dari belakang di tengah kerumunan.
Karena itu proses melihat jersey dalam bentuk mockup menjadi penting sebelum desain benar-benar masuk produksi.
Dari Photoshop ke Ribuan Pelari di Jalanan Solo
Salah satu bagian yang paling menyenangkan datang ketika desain akhirnya keluar dari layar.
Sebelumnya aku melihat jersey ini sebagai file desain.
Ada layer.
Ada artboard.
Ada mockup depan-belakang.
Ada revisi.
Ada warna yang harus dibandingkan.
Kemudian semuanya berubah ketika jersey benar-benar diproduksi.
Ada manusia yang mengenakannya.
Ada foto campaign.
Ada peserta yang mengunggah race kit mereka.
Dan pada race day, warna-warna yang sebelumnya hanya kami lihat melalui layar akhirnya memenuhi jalanan Kota Solo.
Pink.
Biru.
Magenta.
Kemudian hitam yang menunggu di akhir perjalanan Half Marathon.
Dengan sekitar 6.000 peserta yang meramaikan Solo Run Fest 2025, desain yang awalnya hanya terdiri dari kumpulan shape dan warna akhirnya berubah menjadi bagian dari sebuah event berskala besar.
Buatku, ada kepuasan tersendiri melihat itu.
Karena skala sebuah desain tiba-tiba berubah.
Yang awalnya hanya beberapa ribu pixel di monitor menjadi sesuatu yang bergerak bersama ribuan orang di tengah kota.
Warna Juga Membantu Membangun Identitas di Race Day
Ada keuntungan lain ketika setiap kategori memiliki karakter warna yang jelas.
Di tengah ribuan peserta, warna membantu menciptakan identitas kategori secara natural.
Ketika melihat kelompok dengan warna tertentu, kita bisa lebih cepat mengenali kategorinya.
Dan secara visual, race day menjadi jauh lebih hidup.
Tapi menurutku fungsi warna yang paling menarik justru muncul setelah event berakhir.
Karena jersey akhirnya berubah menjadi semacam memorabilia.
Seseorang mungkin melihat jersey 5K-nya beberapa tahun kemudian dan teringat:
“Oh iya, waktu itu pertama kali ikut race.”
Orang lain mungkin melihat jersey 10K dan mengingat personal best-nya.
Dan seseorang yang mempunyai HM Finisher Jersey mungkin masih ingat persis bagaimana rasanya kilometer terakhir sebelum masuk garis finish.
Pada akhirnya warna bukan lagi sekadar kode.
Warna berubah menjadi pemicu memori.
Ketika Peserta Mulai Memberikan Respons
Ada momen yang menurutku menarik ketika desain mulai digunakan dan muncul komentar dari peserta.
Beberapa respons sederhana seperti:
“Ini beda.”
“Ini ngebantu.”
“Ini baru.”
Kelihatannya sederhana.
Tapi bagi orang yang mengerjakan desain, komentar semacam itu cukup berarti.
Karena artinya keputusan yang sebelumnya hanya ada di meja kerja akhirnya dirasakan oleh orang yang benar-benar menggunakan produknya.
Desain tidak lagi hanya dinilai dari apakah layout-nya bagus.
Desain mulai punya hubungan dengan pengalaman orang.
Dan di situ rasanya berbeda.
Yang Aku Pelajari dari Project Ini
Solo Run Fest 2025 mengingatkanku lagi bahwa sebuah desain tidak selalu harus berteriak agar punya makna.
Kadang keputusan sederhana seperti memilih warna berbeda untuk tiap kategori bisa mempunyai lapisan fungsi yang cukup panjang.
Warna menjadi identitas.
Warna membantu diferensiasi.
Warna membangun atmosfer.
Dan akhirnya warna menjadi bagian dari cerita yang dibawa peserta pulang.
Project ini juga mengajarkanku untuk melihat jersey bukan hanya sebagai merchandise.
Untuk sebuah running event, jersey adalah salah satu brand touchpoint paling panjang umur.
Banner mungkin hanya berdiri beberapa hari.
Konten Instagram mungkin hanya ramai selama beberapa minggu.
Tapi jersey bisa dipakai bertahun-tahun.
Artinya, sebuah identitas event masih bisa berjalan di jalanan bahkan lama setelah event selesai.
Dan mungkin itulah hal yang paling aku suka dari project ini.
Dari Garis Start Sampai Menjadi Kenangan
Solo Run Fest 2025 akhirnya digelar pada 28 September 2025, dengan race yang bergerak dari kawasan Stadion Manahan menuju Taman Balekambang dan diramaikan sekitar 6.000 peserta dari berbagai kategori.
Hari itu, jersey yang sebelumnya kami lihat sebagai mockup benar-benar menjalankan fungsinya.
Dipakai.
Berkeringat.
Difoto.
Melewati kilometer demi kilometer.
Dan akhirnya ikut menyeberangi garis finish.
Aku berkesempatan menjadi bagian kecil dari proses besar tersebut melalui Creative Team Solo Run Fest 2025.
Dari sekian banyak aset visual yang dikerjakan untuk sebuah event, jersey mungkin menjadi salah satu yang paling menarik bagiku.
Karena setelah panggung dibongkar dan jalan kembali normal, sebagian dari desain itu tidak benar-benar hilang.
Ia ikut pulang bersama peserta.
Masuk ke lemari mereka.
Dipakai latihan lagi.
Dan mungkin suatu hari ketika mereka mengenakannya kembali, ada satu cerita yang ikut muncul:
tentang Solo, tentang race day, dan tentang jarak yang pernah mereka selesaikan.
Itulah saat sebuah jersey berhenti menjadi sekadar pakaian.
Ia menjadi bagian dari cerita pelarinya.






