Membangun Visual Branding SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu

Di bulan November 2025, aku menerima challenge yang cukup menarik: mengerjakan branding dan berbagai kebutuhan visual untuk SHA SOLO 5K Fun Run dengan timeline yang cukup ketat.

Kurang lebih hanya satu minggu dari pengembangan konsep sampai seluruh materi siap dieksekusi.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu

Event ini bukan sekadar acara lari biasa. SHA SOLO 5K Fun Run menjadi bagian dari perayaan 10 tahun PT SHA SOLO, sehingga visualnya harus membawa dua karakter sekaligus.

Di satu sisi, desain harus terasa seperti sebuah sporting event: aktif, energik, mudah dikenali, dan punya atmosfer fun run.

Di sisi lain, identitas PT SHA SOLO tetap harus terasa kuat.

Di situlah tantangan sebenarnya dimulai.

Tantangannya Bukan Membuat Satu Poster

Kalau kebutuhan proyek ini hanya satu poster utama, mungkin prosesnya akan jauh lebih sederhana.

Masalahnya, sebuah event ternyata membutuhkan visual di banyak titik.

Mulai dari materi promosi sebelum event, konten Instagram, banner, signage, area start, kebutuhan pacer, wristband peserta, refreshment area, backdrop foto, sampai beberapa elemen pendukung lainnya.

Setiap media memiliki ukuran, fungsi, dan kondisi penggunaan yang berbeda.

Ada desain yang hanya dilihat melalui layar smartphone.

Ada yang harus terbaca dari jarak beberapa meter.

Ada yang dicetak dalam ukuran sangat kecil seperti gelang peserta.

Ada juga desain berukuran besar yang akhirnya menjadi background foto ratusan orang.

Dari situ aku sadar bahwa yang harus dibangun bukan sekadar kumpulan desain.

Yang dibutuhkan adalah satu visual system.

Media boleh berbeda bentuk dan fungsinya, tetapi ketika semuanya diletakkan berdampingan, orang harus tetap bisa mengenalinya sebagai satu event yang sama:

SHA SOLO 5K Fun Run.

Memulai dari DNA PT SHA SOLO

Aku memulai konsep visual dari sesuatu yang sudah melekat kuat pada PT SHA SOLO: warna biru.

Biru bukan dipilih sekadar karena terlihat bagus.

Warna ini memang sudah menjadi bagian dari identitas SHA SOLO dan cukup dekat dengan karakter bisnis perusahaan yang bergerak di bidang energi, transportasi, dan logistik.

Secara visual, biru juga membawa kesan profesional, kuat, dan terpercaya.

Tetapi kalau seluruh desain hanya menggunakan pendekatan corporate, hasil akhirnya bisa terasa seperti acara perusahaan biasa.

Padahal ini adalah fun run.

Karena itu, identitas biru tersebut kemudian aku kombinasikan dengan aksen merah, putih, gradient, bentuk geometris, dan tipografi yang jauh lebih bold.

Tujuannya adalah menemukan titik tengah:

tetap terasa sebagai PT SHA SOLO, tetapi memiliki energi sebuah sporting event.

Menjadikan Truk sebagai Hero Visual

Salah satu keputusan yang sengaja aku pertahankan dalam konsep ini adalah penggunaan truk SHA SOLO sebagai hero visual.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu - Backdrop
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu – Backdrop

Dalam event lari, biasanya kita akan banyak menemui visual sepatu, race track, siluet pelari, atau foto atlet.

Tapi aku merasa kalau pendekatan yang sama digunakan, event ini bisa kehilangan konteks brand-nya.

SHA SOLO 5K Fun Run merupakan bagian dari perayaan perjalanan 10 tahun perusahaan.

Dan dalam perjalanan tersebut, truk menjadi salah satu simbol yang paling mudah dikenali dari aktivitas operasional SHA SOLO.

Truk merepresentasikan pergerakan.

Distribusi.

Perjalanan.

Kerja keras.

Dan konsistensi.

Semua hal tersebut terasa cukup relevan dengan tema anniversary sekaligus olahraga lari.

Karena itu, truk tidak hanya ditempatkan sebagai ornamen kecil. Pada beberapa media, elemen ini justru tampil cukup dominan.

Hasil akhirnya menjadi sebuah kombinasi yang menurutku cukup unik:

running event bertemu dunia transportasi dan energi.

Justru pertemuan dua dunia itulah yang membuat visual SHA SOLO 5K Fun Run memiliki karakter sendiri.

Membuat “5K FUN RUN” Terbaca dalam Hitungan Detik

Event signage punya aturan main yang berbeda dibanding desain yang hanya ditampilkan di layar.

Orang tidak selalu punya waktu untuk berhenti dan membaca.

Beberapa visual bahkan mungkin hanya terlihat selama beberapa detik ketika peserta berjalan atau berlari melewatinya.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu - Bendera Flag Off
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu – Bendera Flag Off

Karena itu, tulisan “5K FUN RUN” aku jadikan salah satu elemen paling dominan dalam keseluruhan sistem visual.

Tipografinya dibuat besar, tegas, kontras, dan mudah dikenali.

Prinsipnya sederhana:

orang harus menangkap pesan utamanya terlebih dahulu sebelum melihat detail lainnya.

Pendekatan tersebut kemudian diterapkan ke berbagai media.

Pada banner utama, identitas 5K dibuat sangat dominan.

Pada vertical banner, komposisi menyesuaikan ruang yang lebih sempit tetapi headline tetap menjadi focal point.

Pada Instagram, tipografi tetap dibuat cukup kuat agar desain masih mudah dikenali meskipun hanya terlihat sebagai thumbnail di grid.

Sedangkan pada signage event, informasi dipangkas sesuai fungsi masing-masing media.

Dari situ aku semakin memahami bahwa desain event yang baik bukan soal seberapa banyak informasi yang bisa dimasukkan.

Justru sebaliknya.

Kita harus tahu informasi mana yang harus terbaca dalam satu detik, mana yang membutuhkan tiga detik, dan mana yang boleh ditemukan setelah orang mendekat.

Dari Key Visual Menjadi Satu Sistem

Setelah konsep utama terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah menerjemahkan key visual tersebut ke berbagai kebutuhan.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu - Start Line
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu – Start Line

Visual SHA SOLO 5K Fun Run kemudian dikembangkan menjadi beberapa touchpoint, antara lain:

  • banner utama dan vertical banner,
  • start line,
  • backdrop dan photo spot,
  • wristband peserta,
  • signage refreshment,
  • flag,
  • signage pacer,
  • race information,
  • materi promosi,
  • hingga konten Instagram.

Setiap media mempunyai fungsi yang berbeda.

Signage refreshment tidak membutuhkan informasi sebanyak poster promosi.

Wristband mempunyai ruang yang sangat terbatas.

Backdrop harus tetap menarik ketika sebagian besar visual tertutup oleh orang yang sedang berfoto.

Start line harus mudah dikenali dari kejauhan.

Sedangkan konten Instagram harus tetap terbaca dengan baik melalui layar smartphone.

Karena itu prosesnya bukan sekadar melakukan resize dari satu desain utama.

Setiap media tetap membutuhkan penyesuaian komposisi.

Namun ada beberapa elemen yang sengaja dipertahankan agar seluruhnya terasa sebagai satu keluarga visual: warna, tipografi, pola grafis, karakter layout, identitas 5K Fun Run, hingga penggunaan truk SHA SOLO.

Dengan pendekatan tersebut, medianya boleh berubah, tetapi identitasnya tetap konsisten.

Instagram Menjadi Bagian dari Pengalaman Event

Pengalaman peserta sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum mereka berada di garis start.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu - Feed Instagram
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu – Feed Instagram

Banyak peserta kemungkinan pertama kali mengenal event melalui media sosial.

Karena itu, Instagram tidak aku anggap sebagai bagian terpisah dari branding event.

Justru media sosial menjadi salah satu touchpoint awal.

Mulai dari teaser event, informasi registrasi, countdown, race guide, hadiah, entertainment, sampai informasi setelah acara, semuanya tetap menggunakan bahasa visual yang sama.

Peserta melihat event melalui Instagram.

Kemudian mereka datang ke lokasi dan menemukan warna serta visual yang familiar.

Mereka memakai wristband dengan identitas yang sama.

Melihat pacer membawa signage dengan bahasa visual yang sama.

Kemudian mereka berfoto di backdrop yang juga masih menggunakan sistem tersebut.

Setelah event selesai, foto-foto itu kembali diunggah ke media sosial.

Akhirnya tercipta sebuah siklus:

digital → physical event → documentation → kembali ke digital.

Dan menurutku, di situlah konsistensi sebuah event branding mulai terasa manfaatnya.

Ketika Desain Keluar dari Monitor

Bagian yang selalu paling menarik dari mengerjakan desain event adalah saat file yang beberapa hari sebelumnya hanya berada di layar komputer akhirnya benar-benar hadir di ruang fisik.

Banner mulai terpasang.

Start line terbentuk.

Wristband mulai dikenakan peserta.

Flag mulai bergerak.

Pacer membawa signage mereka.

Area refreshment mulai digunakan.

Backdrop yang sebelumnya hanya sebuah artboard akhirnya menjadi tempat orang antre untuk berfoto.

Pada titik itu, desain sudah berhenti menjadi sekadar JPG, PDF, atau file kerja.

Ia mulai menjadi bagian dari pengalaman sebuah acara.

Dan di sinilah keputusan-keputusan kecil selama proses desain benar-benar diuji.

Apakah tulisan cukup terlihat?

Apakah warna tetap kuat setelah dicetak?

Apakah backdrop masih bekerja ketika ada banyak orang berdiri di depannya?

Apakah signage cukup cepat dipahami?

Hal-hal seperti ini kadang sulit dinilai hanya dari monitor.

Ketika Visual Bertemu 1.000 Peserta

Puncaknya tentu terjadi ketika SHA SOLO 5K Fun Run benar-benar dilaksanakan.

Event ini sukses diselenggarakan dengan total sekitar 1.000 peserta dari berbagai komunitas di seluruh Solo Raya.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu

Di titik itu, seluruh visual yang sebelumnya dikerjakan satu per satu mulai menjalankan fungsinya secara bersamaan.

Banner menyambut peserta.

Start line menjadi titik berkumpul sebelum lomba dimulai.

Pacer signage membantu peserta mengenali kelompok larinya.

Wristband digunakan oleh ratusan peserta.

Area refreshment dipenuhi pelari setelah menyelesaikan rute.

Backdrop menjadi salah satu titik dokumentasi.

Sementara identitas visual yang sebelumnya hanya terlihat melalui Instagram kini hadir di hampir seluruh pengalaman event.

Buatku, bagian ini terasa cukup spesial.

Ketika sebuah desain digunakan dalam event dengan seribu peserta, desain tersebut tidak lagi hanya menjadi karya visual.

Ia menjadi bagian dari sebuah pengalaman bersama.

Ada peserta yang mungkin pertama kali menemukan event dari Instagram.

Ada yang datang bersama komunitas larinya.

Ada yang berfoto di backdrop.

Ada yang merekam suasana acara.

Kemudian dokumentasi tersebut kembali tersebar melalui Instagram, WhatsApp, maupun media sosial lainnya.

Tanpa disadari, visual event ikut bepergian bersama peserta.

Dan menurutku, itulah salah satu tanda bahwa sebuah visual system benar-benar bekerja.

Bukan karena semua orang berhenti untuk mengamati desainnya.

Tetapi karena identitas event tetap terasa konsisten di tengah keramaian sekitar 1.000 orang.

Branding yang Bagus Kadang Tidak Disadari

Peserta mungkin tidak akan datang lalu berkata:

“Wah, visual consistency acara ini bagus sekali.”

Dan memang bukan itu tujuannya.

Branding yang konsisten justru sering bekerja tanpa disadari.

Ketika banner, race guide, wristband, backdrop, signage, dan Instagram terasa berasal dari dunia visual yang sama, event secara otomatis terasa lebih rapi dan terorganisir.

Orang mungkin tidak tahu alasan spesifiknya.

Tetapi persepsi tersebut muncul.

Menurutku, di situlah fungsi visual system bekerja.

Bukan supaya setiap desain terlihat paling ramai.

Bukan pula supaya semua media dipenuhi elemen grafis.

Tetapi untuk menciptakan pengalaman yang terasa nyambung dari awal hingga akhir.

Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu
Membangun Visual System SHA SOLO 5K Fun Run dalam Satu Minggu

Satu Minggu yang Mengajarkan Banyak Hal

Timeline proyek ini cukup cepat.

Dari pengembangan konsep hingga berbagai kebutuhan visual masuk ke tahap produksi, semuanya berjalan dalam waktu kurang lebih satu minggu.

Kondisi seperti ini memaksaku untuk lebih disiplin ketika mengambil keputusan desain.

Tidak semua ide bisa dieksplorasi terlalu lama.

Key visual utama juga harus cukup kuat sejak awal karena nantinya akan diturunkan menjadi banyak media.

Dari sini aku semakin memahami satu hal:

semakin banyak turunan desain yang akan dibuat, semakin penting fondasi visual yang dibangun di awal.

Kalau warna, tipografi, hierarchy, elemen grafis, dan aturan visualnya tidak jelas, revisi akan terus muncul ketika desain mulai diterapkan ke media lainnya.

Sebaliknya, ketika fondasi visual sudah solid, proses adaptasi menjadi jauh lebih cepat.

Yang Aku Pelajari dari SHA SOLO 5K Fun Run

Project ini membuatku semakin melihat bahwa event branding bukan sekadar pekerjaan membuat poster.

Event branding adalah pekerjaan membangun sebuah visual language.

Kita harus memikirkan bagaimana identitas terlihat ketika ukurannya beberapa meter.

Bagaimana ketika hanya selebar wristband.

Bagaimana ketika dilihat melalui smartphone.

Bagaimana ketika digunakan sebagai signage.

Dan bagaimana ketika sebagian besar visual tertutup oleh puluhan orang yang sedang berfoto.

Setiap media memiliki constraint masing-masing.

Namun semuanya tetap harus berbicara menggunakan bahasa visual yang sama.

Dari proyek SHA SOLO 5K Fun Run ini, ada satu prinsip yang semakin aku percaya:

Consistency creates experience.

Ketika peserta mulai mengenal event melalui Instagram, datang dan melihat bahasa visual yang sama di lokasi, menggunakan atribut dengan identitas yang sama, kemudian membawa pulang dokumentasi dengan visual yang masih konsisten, desain telah melakukan lebih dari sekadar mempercantik acara.

Desain ikut membentuk memori tentang event tersebut.

Dan mungkin itu bagian yang paling aku suka dari project ini.

Dalam satu minggu, pekerjaanku bukan hanya membuat banner, backdrop, wristband, signage, atau konten Instagram.

Aku ikut membangun bagaimana perayaan 10 tahun PT SHA SOLO terlihat dan dirasakan melalui sebuah fun run yang akhirnya diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai komunitas di Solo Raya.

Dari sebuah artboard di layar komputer, kemudian dicetak, dipasang, digunakan, difoto, sampai akhirnya muncul kembali di timeline media sosial peserta.

Melihat sebuah visual yang awalnya hanya berupa file kerja berubah menjadi bagian nyata dari sebuah event selalu punya kepuasan tersendiri.

Scroll to Top