Beberapa tahun lalu, kalau mau mulai desain biasanya aku buka Pinterest, Behance, Google Images, lalu muter-muter cari referensi sampai nemu arah yang terasa pas. Sekarang prosesnya agak berubah. Bukan berarti referensi visual sudah nggak penting, tapi sebelum masuk ke software desain, aku sekarang lebih sering ngobrol dulu dengan AI.
Bukan untuk minta AI menyelesaikan desain dari awal sampai akhir. Justru bagian yang paling sering aku manfaatkan adalah fase sebelum desain benar-benar dimulai: memahami brief, mencari angle, menyusun konsep, membandingkan beberapa kemungkinan visual, sampai membuat bahan mentah yang nantinya masih aku olah lagi.

Dari beberapa tool AI yang pernah aku coba, ada tiga yang sampai sekarang paling sering masuk ke workflow desainku: ChatGPT, Gemini, dan Dreamina.
Masing-masing punya fungsi yang beda. Aku juga nggak menganggap satu tool lebih “pintar” untuk semua hal. Kadang ChatGPT enak buat diskusi. Gemini lebih praktis ketika aku perlu eksplorasi atau second opinion. Dreamina baru masuk ketika arah visualnya sudah mulai kebentuk dan aku butuh sesuatu yang bisa dilihat.
Kalau disederhanakan, alurnya sering seperti ini:
mikir → riset → visualisasi → desain ulang.
Dan AI paling terasa gunanya justru ketika dipakai untuk mempercepat tiga tahap pertama.
ChatGPT: Tempat Aku Berantem Sama Ide Sebelum Mulai Desain
ChatGPT mungkin tool yang paling sering aku buka ketika project masih berantakan.
Kadang brief dari client atau dari kantor sebenarnya cuma satu atau dua kalimat. Misalnya:
“Bikin backdrop buat event ini.”
Atau:
“Kita butuh visual yang kelihatan premium.”
Masalahnya, “premium” itu maksudnya apa?
Minimalis? Gelap? Metallic? Corporate? Luxury? Modern industrial?
Kalau langsung buka Photoshop dengan brief sesingkat itu, biasanya malah buang waktu karena aku belum tahu desain ini sebenarnya mau dibawa ke mana.
Di sinilah aku sering pakai ChatGPT sebagai sparring partner.
Aku kasih konteks sebanyak mungkin: brand-nya apa, event-nya apa, target audience-nya siapa, medianya nanti dicetak atau digital, ukurannya berapa, dan elemen apa yang wajib masuk.
Lalu aku mulai lempar pertanyaan.
Bukan cuma:
“Bikin konsep desain dong.”
Tapi biasanya lebih spesifik.
Misalnya:
“Aku punya event olahraga dari perusahaan energi. Warna brand biru, tapi aku nggak mau hasilnya terlalu corporate. Elemen apa yang masih bisa mempertahankan identitas perusahaan tapi tetap terasa seperti sporting event?”
Pertanyaan seperti itu jauh lebih berguna.
Karena yang aku cari sebenarnya bukan desain final.
Aku sedang mencari arah berpikir.
Kadang dari diskusi itu muncul tiga atau empat opsi konsep yang sebelumnya belum kepikiran. Ada yang akhirnya dibuang, ada yang digabung, dan ada satu yang kemudian aku bawa lebih jauh.
Jadi buatku, ChatGPT paling enak bukan ketika disuruh menjadi “desainer”.
Tapi ketika dipakai seperti teman satu tim yang bisa ditanya:
“Kalau gue bikin begini, masuk akal nggak?”
Aku Juga Pakai ChatGPT untuk Membongkar Brief
Ini bagian yang menurutku lumayan berguna kalau kerja desainnya sudah mulai banyak.
Sebuah brief kadang punya banyak informasi tapi tidak punya hierarchy.
Logo A wajib.
Logo B wajib.
Tanggal harus masuk.
Sponsor harus terlihat.
Headline harus besar.
Foto harus ada.
Kontak harus masuk.
Dan semuanya katanya “penting”.
Kalau semua dianggap sama pentingnya, desain pasti penuh.
Kadang aku copy seluruh brief ke ChatGPT lalu minta dibagi menjadi:
primary information, secondary information, dan supporting information.
Hasilnya belum tentu aku ikuti mentah-mentah, tapi ini cukup membantu melihat masalah dari luar.
Karena sebagai orang yang sedang mengerjakan project, kita kadang terlalu dekat dengan brief sampai semua informasi terasa wajib ditonjolkan.
AI bisa membantu merapikan struktur sebelum aku mulai menentukan visual hierarchy.

Dari ChatGPT ke Prompt Visual
Fungsi lain yang lumayan sering aku pakai adalah menyusun prompt untuk image generation.
Misalnya aku punya foto referensi sebuah truk dari angle tertentu. Aku ingin membuat visual baru dengan komposisi yang serupa, tetapi background, suasana, pencahayaan, dan konteksnya berbeda.
Daripada menulis:
“Bikin truk di pelabuhan.”
Aku bisa kasih referensi kemudian minta ChatGPT membedahnya:
- angle kameranya seperti apa,
- focal length-nya kira-kira bagaimana,
- posisi subject,
- waktu pengambilan gambar,
- jenis lighting,
- background,
- depth,
- sampai mood keseluruhan.
Dari situ baru dibuat prompt yang jauh lebih detail.
Ini membantu karena dalam image generation, sering kali masalahnya bukan model AI-nya jelek.
Masalahnya kita sendiri belum bisa menjelaskan visual yang ada di kepala dengan cukup jelas.
Gemini: Aku Pakai sebagai Second Brain untuk Riset
Kalau ChatGPT lebih sering aku pakai untuk ngobrol dan mengembangkan konsep, Gemini biasanya masuk ketika aku ingin mencari perspektif lain.
Misalnya aku sedang bikin visual untuk suatu industri yang belum terlalu familiar.
Brand kopi.
Healthcare.
Otomotif.
Marine.
Sporting event.
Atau produk tertentu.
Sebelum menentukan visual, aku biasanya ingin tahu dulu dunia brand tersebut seperti apa.
Contohnya kalau sedang mengerjakan brand kopi modern, aku bisa mulai dari pertanyaan:
“Apa karakter visual yang sering dipakai brand kopi modern yang tetap terasa warm dan approachable?”
Dari jawaban itu aku bisa mulai mengumpulkan kata-kata visual:
earth tone, cream, deep brown, organic shape, editorial typography, natural texture.
Belum jadi desain.
Tapi minimal aku sudah punya visual vocabulary.
Dan menurutku ini penting.
Karena salah satu penyebab desain terasa generic adalah kita terlalu cepat loncat ke visual sebelum benar-benar memahami konteks brand yang sedang dikerjakan.
Gemini Juga Berguna untuk Ngecek Apakah Ide Kita Terlalu Umum
Kadang aku sudah punya konsep, tapi masih ragu:
“Ini terlalu biasa nggak?”
Di situ aku sering mencoba melempar konsep yang sama ke AI lain.
Bukan untuk mencari pembenaran.
Justru aku ingin melihat apakah ada blind spot.
Misalnya aku bilang:
“Untuk brand konstruksi, aku mau pakai warna hitam-kuning, garis diagonal, dan visual heavy machinery.”
Secara teori masuk.
Tapi itu juga berarti aku sedang memakai hampir semua visual cliché industri konstruksi sekaligus.
Dari second opinion semacam itu, kadang aku jadi sadar:
Oh iya, aman sih. Tapi nggak ada yang bikin ini berbeda.
Baru setelah itu aku mulai cari elemen pembeda.
Jadi AI di tahap riset sebenarnya bukan hanya membantu mencari ide.
Kadang justru membantu mengkritik ide pertama.
Dan menurutku itu jauh lebih berguna.
Dreamina: Saat Ide Harus Berubah Jadi Sesuatu yang Bisa Dilihat
Setelah arah konsep mulai jelas, barulah aku masuk ke tahap visual generation.
Di sinilah Dreamina sering aku pakai.
Fungsinya macam-macam.
Kadang untuk bikin moodboard.
Kadang untuk menghasilkan background.
Kadang untuk mencari komposisi.
Kadang cuma untuk melihat:
“Kalau ide yang tadi kita bahas benar-benar divisualkan, kira-kira rasanya seperti apa?”
Ini menghemat banyak waktu terutama ketika project membutuhkan visual yang cukup spesifik dan stok foto yang tersedia tidak sesuai.
Misalnya aku butuh:
truk industri dari angle tertentu,
lokasi pelabuhan,
background industrial,
pencahayaan pagi,
subject jangan terlalu close-up,
dan ada cukup negative space untuk headline.
Kalau mencari stock photo yang memenuhi semua kriteria itu bisa lama.
Dengan generative AI, aku bisa membuat beberapa alternatif terlebih dahulu.
Belum tentu hasilnya langsung dipakai.
Tapi minimal aku bisa menguji komposisi.
Aku Jarang Menganggap Hasil Generate sebagai Final
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Aku cukup sering menggunakan AI image generator, tapi jarang sekali hasil mentahnya langsung aku anggap selesai.
Biasanya masih ada proses setelah itu.
Masuk Photoshop.
Crop ulang.
Retouch.
Color grading.
Hapus object yang aneh.
Perbaiki perspektif.
Gabungkan dengan asset asli.
Tambah typography.
Masukkan logo.
Atur hierarchy.
Kadang hasil AI cuma 30 persen dari desain final.
Kadang 60 persen.
Tergantung project.
Karena model AI cukup bagus dalam menghasilkan sebuah image, tapi image yang bagus belum tentu menjadi desain yang bagus.
Ada perbedaan besar di situ.
AI bisa bikin gambar truk yang keren.
Tapi AI belum tentu tahu headline harus ditempatkan di mana.
Belum tentu ngerti safe area.
Belum tentu tahu logo client tidak boleh terlalu dekat cutting line.
Belum tentu tahu kalau desain itu akan dicetak 8 meter dan dilihat dari jarak 30 meter.
Itu masih pekerjaan desain.
Workflow-nya Akhirnya Kurang Lebih Begini
Kalau aku sederhanakan prosesnya, biasanya seperti ini.
Aku mulai dari brief.
Brief tersebut aku bongkar dulu bersama ChatGPT untuk mencari problem utamanya. Setelah problem cukup jelas, aku mencari konteks dan referensi tambahan, kadang menggunakan Gemini untuk mendapatkan perspektif kedua.
Dari sana mulai terbentuk satu arah visual.
Baru kemudian aku menyusun prompt dan membawa konsepnya ke Dreamina untuk melihat beberapa kemungkinan visual.
Hasil generate aku pilih.
Yang nggak cocok dibuang.
Yang mendekati arah desain dibawa ke software desain.
Baru di situlah proses sebenarnya dimulai lagi.
Layout.
Typography.
Spacing.
Color.
Compositing.
Brand consistency.
Revisi.
Sampai akhirnya jadi.
Jadi sebenarnya workflow-nya bukan:
prompt → generate → selesai.
Lebih seperti:
brief → diskusi → riset → eksplorasi → generate → kurasi → desain → revisi.
AI cuma masuk di beberapa titik untuk mempercepat proses.
Yang Paling Banyak Berubah Justru Waktu untuk Mencari Arah
Sebelum banyak menggunakan AI, salah satu proses paling lama buatku adalah mencari arah.
Buka Pinterest.
Scroll Behance.
Cari referensi di Google.
Simpan lima gambar.
Lalu sepuluh.
Lalu dua puluh.
Satu jam kemudian folder referensi penuh, tapi konsepnya belum tentu lebih jelas.
Sekarang proses itu masih ada, tapi biasanya aku sudah punya hipotesis sebelum mulai mencari referensi.
Misalnya:
“Aku ingin industrial tapi cinematic, dengan subject kecil supaya terasa scale.”
Baru aku mencari visual yang mendukung arah tersebut.
Menurutku ini perubahan yang cukup besar.
AI bukan cuma mempercepat produksi.
AI membantu mempercepat decision making.
Dan dalam pekerjaan kreatif, kadang justru keputusan yang lama.
Bukan eksekusinya.
Tapi Ada Bahayanya: Kita Jadi Terlalu Cepat Puas
Semakin gampang bikin visual, semakin gampang juga merasa:
“Wah, ini udah bagus.”
Padahal bagus secara teknis belum tentu bagus secara konsep.
AI bisa menghasilkan lighting dramatis.
Composition cakep.
Detail tajam.
Depth cinematic.
Tapi begitu ditanya:
“Kenapa visualnya harus seperti ini?”
kadang kita nggak punya jawaban.
Ini yang aku rasa perlu dijaga.
AI membuat eksplorasi menjadi murah.
Karena murah, kita bisa generate 20 gambar dalam waktu singkat.
Tapi desain tetap membutuhkan kemampuan memilih.
Dari 20 itu, mana yang benar-benar relevan?
Mana yang cuma kelihatan keren?
Mana yang sesuai dengan brand?
Mana yang akan bekerja di media final?
Curating menjadi skill yang semakin penting.
AI Membantu Produksi, Tapi Judgment Tetap Ada di Desainer
Aku nggak terlalu suka narasi bahwa AI akan menggantikan semua proses kreatif.
Tapi aku juga nggak percaya kalau AI dianggap cuma mainan yang tidak berguna untuk desainer.
Menurutku realitasnya ada di tengah.
AI sudah sangat berguna.
Bahkan untuk beberapa bagian workflow, aku merasa aneh kalau harus kembali bekerja tanpa bantuan tool seperti ini.
Tapi AI juga belum menghilangkan bagian tersulit dari desain:
mengambil keputusan.
Apakah visual ini relevan?
Apakah headline terlalu kecil?
Apakah client butuh sesuatu yang lebih corporate?
Apakah warna ini terlalu agresif?
Apakah design hierarchy-nya sudah benar?
Apakah visual bagus ini benar-benar menyelesaikan brief?
AI bisa memberi pilihan.
Tapi seseorang tetap harus memilih.
ChatGPT, Gemini, dan Dreamina Punya Posisi Masing-masing
Kalau akhirnya harus diringkas, kurang lebih pembagian tugasku sekarang seperti ini.
ChatGPT paling sering aku gunakan untuk membongkar brief, brainstorming, mengembangkan konsep, mencari alternatif headline, dan menyusun prompt.
Gemini biasanya menjadi teman riset dan second opinion. Aku pakai untuk memperluas perspektif, memahami konteks sebuah industri, atau sekadar menguji apakah konsep awalku terlalu generik.
Dreamina masuk saat sesuatu perlu divisualisasikan. Bukan untuk mengambil alih desain, tetapi untuk mempercepat eksplorasi image, composition, background, dan mood.
Setelah itu semuanya tetap kembali ke software desain.
Karena di sanalah potongan-potongan tadi akhirnya disatukan menjadi satu karya yang benar-benar bisa digunakan.
AI Buatku Bukan Pengganti Proses Kreatif
Kalau harus menjelaskan hubungan AI dengan pekerjaanku sekarang, mungkin kalimat paling pas adalah:
AI memperpendek jarak antara ide dan eksperimen.
Dulu sebuah ide kadang berhenti hanya karena terlalu mahal atau terlalu lama untuk diuji. Sekarang aku bisa mencoba beberapa kemungkinan dalam waktu singkat.
Bagaimana kalau background-nya malam?
Bagaimana kalau subject-nya dilihat dari drone?
Bagaimana kalau layout-nya lebih editorial?
Bagaimana kalau warna brand dibuat lebih subtle?
Semua bisa diuji lebih cepat.
Tapi keputusan akhirnya tetap ada di kita.
Karena pada akhirnya client tidak membutuhkan 50 hasil generate.
Client membutuhkan satu desain yang tepat.
Dan menurutku di situlah posisi AI paling masuk akal dalam workflow kreatifku sekarang.
Bukan sebagai pengganti desainer.
Bukan juga cuma gimmick.
Tapi sebagai tiga asisten digital dengan pekerjaan berbeda:
ChatGPT membantu mikir.
Gemini membantu memperluas sudut pandang.
Dreamina membantu melihat ide lebih cepat.
Sisanya tetap pekerjaan kita: memilih, mengolah, memperbaiki, dan memastikan desain yang keluar bukan cuma menarik secara visual, tapi juga punya alasan kenapa dibuat seperti itu.

