Solo, 2026 — Ada yang beda dengan udara di sepanjang Jalan Slamet Riyadi belakangan ini. Di antara deretan kedai kopi kekinian dan trotoar yang semakin rapi, ada sebuah pergeseran budaya yang menarik perhatian saya. Dan dari situlah, lagu terbaru saya, “Solo Yolo”, lahir.
Tapi, ada satu hal yang tidak pernah berubah: Vibe-nya tetap slow.
Lagu ini bercerita tentang bagaimana kita bisa tetap menjadi diri sendiri, mengadopsi gaya modern, namun tetap memegang teguh jiwa “Slow Living” yang hakiki. Di Solo, kita nggak perlu ambisi berlebih, cukup segelas Americano dan menikmati langit senja di trotoar Slamet Riyadi.
“Meski bahasa berubah, hati tetap di sini. Solo yang tenang, tempat pulang paling dicari.”
Proses Kreatif
Lirik ini saya tulis sambil duduk memperhatikan lalu-lalang orang di pusat kota. Saya ingin menangkap kesan bahwa Solo sekarang adalah tempat di mana tradisi dan modernitas berdampingan tanpa saling menyakiti.
Melalui “Solo Yolo”, saya ingin mengajak pendengar untuk sejenak melepas beban hidup, “goyang tipis-tipis”, dan menyadari bahwa di Solo, hidup itu untuk dinikmati, bukan cuma untuk dikejar.
Dengarkan Sekarang
Kalian sudah bisa mendengarkan “Solo Yolo” di Spotify dan berbagai platform musik digital lainnya melalui link di bawah ini:
Terima kasih buat kalian yang sudah menjadi inspirasi di balik lagu ini. Jangan lupa dengerin sambil ngopi di trotoar, ya!
Salam hangat, Rifki Alfaridzi
